Setia dalam penderitaan

Juli 4, 2008

Di bawah ini adalah artikel yang difoward ke email saya. Saya tidak tahu bagaimana kisah detail keluarga baru ini, tetapi saya berharap Kasih Kristus selalu bersama mereka. Saya pikir mungkin berguna jika saya posting kisah tersebut di blog ini, dan siapa tahu menjadi berkat untuk menguatkan iman bagi rekan-rekan yang sedang mengalami pencobaan. Tuhan memberkati!

KasihBapa.Wordpress.com

Take time to read and be blessed! 

Elkana Timothy Yoe

Dear saudaraku yg terkasih…..

Hari ini saya baru nonton sebuah film kesaksian kisah nyata yg begitu indah…. judul filmnya “Love Never Fails“. Film ini benar2x amat menyentuh sekali. Kesaksian documentary mengenai seorang aktor singapore yg baru menikah seminggu, dan kemudian aktor ini menderita cancer pada hidungnya…. bisa dibayangkan bagaimana penderitaannya dan juga istrinya ketika itu.

Pertama kali mendengar pernyataan dokter, ia harus menderita cancer, dia sangat shocked. Dia harus menjalani radiation treatment untuk berusaha mematikan cell dari cancer. Tetapi itu juga akan mematikan
cell2x normal. Bahkan setelah radiation, untuk minum saja sesuatu yang sulit baginya.

Istrinya berdoa setiap pagi, siang dan malam. Suatu hari ia ingin makan. dan minta tolong kepada istrinya. dan ia sangat kesakitan akan hal itu. Istrinya tidak dapat berbuat apa-apa.

Istrinya berdoa, “God you are God. who can do miracle. can you help us“. kemudian tiba-tiba dia teringat ayat mengenai laut merah. ketika itu, si aktor melihat tangan Tuhan, memegang tangannya, dan membimbingnya mengambil gelas susu yg besar, kemudian dia meminum segelas susu hingga
habis tanpa rasa sakit”.

Sungguh Kuasa Allah nyata atas doa dari istrinya. Hingga result dari dokter keluar. hasilnya sangat tidak baik. Karena tumor menjadi ganas dan mulai menyerang mata kirinya dan otaknya. Tumor ini sangat amat aggresive dan dokter menyatakan hidupnya hanya tinggal 3 bulan.

Perlahan demi perlahan, tumor mulai merusak muka dan rambutnya. Si istri sangat takut, bila suaminya menjadi down dan meninggalkan Tuhan. Tetapi suatu hal yg luar biasa, si suami tetap setia kepada Tuhan. Dia mengerti bahwa Tuhan mengasihi dia dan dia percaya akan hal itu. Bahkan ketika dokter meninggalkan ruangan dia berkata kepada istrinya “Alice, the Bible tells us, Our lives are in the hands of GOD, NOT in the hands of a doctor. It is not God`s will, that i go to heaven yet. I know that God wants me to experience HIM more“.

Sungguh pernyataan yang amat luar biasa dengan kondisi wajah yg sudah berantakan dan hidup yg tinggal sebentar lagi, dia selalu mengatakan “I still believe in God. I believe in our Lord Jesus Christ 100%“. Tuhan mengasihi tanpa batas. Dia Allah yg luar biasa dan hebat, itulah yg menjadi sumber kekuatan baginya.

Dia mulai bersaksi atas segala kasih Tuhan kepadanya dengan wajahnya semakin hari kian memburuk didampingi oleh istrinya yg terus setia mendampinginya. Bagaimana didalam segala kesakitannya, dan penderitaannya, untuk tidur, makan dan aktivitas-aktivitas lainnya, dia merasa Tuhan tetap mengasihi dia. Setiap dia mulai putus asa, dia selalu berdoa dan minta kekuatan kepada Tuhan untuk berbicara kepadanya.

Ketika dia membuka Bible, Tuhan berikan kekuatan dengan ayat dari Joshua 1:9, yakni:

” …Kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, kemana pun engkau pergi.”

Pernah suatu hari dia bertemu dengan orang yg tidak mengenal Yesus. Dengan wajahnya yg memburuk dan mata yang hampir tidak dapat dibuka, Dia masih menyapa orang itu dan berkata “have you ever heard about Jesus ?“.

Dengan cancer yg menyerangnya, dengan kesakitan yg dimilikinya, dia tetap selalu mensharekan bahwa “Jesus loves you ?”.

Pada tahun 1995 chinese new year mereka kembali ke singapore. Dan dia bertanya kepada istrinya ” tahukah kamu kenapa aku kembali ke Singapore ?.

Kamu pasti berpikir karena saya rindu dengan orang tuaku. Tetapi sebenarnya tidak. saya kembali untuk memberitahukan bahwa “God Loves those people they don`t know“. istrinya tahu bahwa dia kembali hanya untuk menyelesaikan tugas yang Tuhan berikan kepadanya.

Sesampainya di singapore, dia berkunjung ke keluarga, saudara dan teman2x untuk mengatakan bahwa “God loves them!”. “Ketika dalam keadaan depress dan jatuh, tetapi ketika saya membaca Bible, mendengar ttg word of God, dan berbicara tentang Tuhan, saya sungguh merasa mendapatkan kekuatan.”

Dia selalu memberitakan injil dengan semangat dan pujian kepada Tuhan, mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berubah, itu benar. Dia selalu bersyukur memiliki seorang istri yang baik. Bahkan dokter yang merawatnya pun begitu heran dengan kekuatan dari istrinya yang dapat melebihi kekuatan tiga suster full time dirumah sakit dalam merawatnya.

Dia menjaganya, menyiapkan makanan, membersihkan luka-lukanya, dan hanya tidur di kursi untuk menjaga suaminya. Suatu kenyataan bahwa “seseorang” yang diberikan Tuhan untuk kita, akan mendampingi kita selamanya. Dan ketika bersandar kepada Tuhan, DIA akan berikan kekuatan itu.

Ketika istrinya melihat kesehatan suaminya semakin merosot dan wajahnya semakin mengerikan, setiap saat istrinya memeluk dia, dia tidak pernah merasa takut. Istrinya berkata “Setiap saya melihat wajah suami
saya, saya melihat Kasih Yesus terpancar dari wajahnya. dari dirinya saya melihat Yesus. Setiap saya melihatnya, saya selalu ingin mencium dia.

Saya sungguh-sungguh merasakan bahwa perkawinan yang Tuhan berikan sungguh merupakan suatu anugerah Terbesar yg pernah Tuhan berikan yg menyatukan kami menjadi satu. saya belajar banyak sebagai seorang istri“.

Dalam suatu kejadian, ketika si istri melihat suaminya. dia menangis kepada Yesus. Dan si istri berkata “Lord, life is in your hands. Lord, Ralph is Yours not mine. You Love him much more than i do. I thank You
that You love him. Lord have mercy. please give me strength to trought this moment
.”

Didalam kesusahannya, si istri sering menyanyikan lagu ini yg memberikannya kekuatan untuk terus memuji2x Tuhan…..

Let us sing to the Lord a new song

Sing to the Lord all the earth

Sing to the Lord

Praise His name

Proclaim His salvation day after day…. hey

Declare His glory among the nations

His marvelous deeds among all people

For great is the Lord

and most worthy of praise

He is to be feared above all gods

above all gods

Satu keyakinan dari sang istri, bahwa suaminya berada di surga. Dia tidak mati. dia hanya tidur. dan telah bersatu dengan Tuhan. Disana tidak ada lagi kesakitan, yang ada hanyalah Kasih Tuhan.

Satu lagu favorite dari Ralph yg selalu dinyanyikannya :

The Lord is my strength my strength

The Lord is my strength

in times of trouble

The Lord is my help my help

The Lord is my help, an ever-present help

The Lord is my refuge my refuge

The Lord is my refuge

and my heart is steadfast

God is my strength and my help

Only God Himself is my refuge

Dari kisah diatas kita dapat melihat seorang yg begitu amat mengasihi Yesus. Bahkan didalam kesakitan, penderitaan dan apapun yg terjadi didalam hidupnya, dia selalu dapat bersyukur dan bersyukur atas segala kebaikan Tuhan. Dia selalu meyakini bahwa Tuhan selalu mengasihinya…

Dia menganggap segala penderitaan yang harus dijalaninya, untuk boleh dipakai oleh Tuhan bagi sesamanya. melalui kesaksian dirinya, banyak orang yang merasa dikuatkan. Bahkan seluruh keluarganya akhirnya pun menerima Kristus sebagai juru selamat. nyatalah bahwa “dibalik suatu penderitaan yang berat pun, ada rencana Tuhan yg telah disediakan. Dan rencana Tuhan amat sangat indah“.

Akhir kata, kuatlah selalu didalam Tuhan kita Yesus Kristus. Bersyukurlah dan setialah selalu dalam segala keadaan, dalam segala penderitaanmu, karena semua itu hanyalah sementara. Jadikanlah semua itu untuk mengerjakan karya Tuhan yg besar. sebagai kesaksian yg hidup, dimana anda dan saya dapat membawa jiwa2x kepada Kristus

Salam Kasih Kristus

NB : saya tampilkan juga beberapa gambar dari pasangan ini. dari mulai perkawinan mereka, kemudian perlahan2x cancer yg ganas merusak wajahnya menjadi sangat mengerikan… kiranya semua ini bisa menjadi berkat dan kekuatan bagi saudara2x…., terutama saat kita menghadapi berbagai pencobaan yang berat.

Te Deum laudamus, te Dominum confitemur
Kami memujiMu Allah, kami memuliakanMu Tuhan

 

Masa bahagia awal pernikahan

Masa bahagia awal pernikahan

  

  

 

 

Awal menikah

Awal menikah

 

penyakit itu datang

penyakit itu datang

 

Penyakit itu semakin ganas

Penyakit itu semakin ganas

 

Tubuh jasmani-nya semakin melemah

Tubuh jasmani-nya semakin melemah

 

Dalam penderitaan keluarga tetap mengasihi

Dalam penderitaan keluarga tetap mengasihi

Kisah Sahabat Yesus

Mei 22, 2008

Story of Jesus’s friend.

Kerinduanku adalah selalu bersama-MU, berada didekapan-MU. ..Berbicang-bincang dengan-MU dan menyenangkan hati-MU from time to time… Mengalahkan keinginan dagingku, menjadi pemenang sampai pada akhirnya, sampai KAU ijinkan aku tutup usia dan kembali kepada-MU

Amin.

Sebuah Kisah: Andy, Sahabat Yesus

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?”

Ya, Bapa Pendeta!” Balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

Terima kasih, Bapa Pendeta.”

Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan… sahabatku.”

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

Andy berkata…

Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya.

Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar.

Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa…paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.

Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi. Tolong Tuhan…

Oh ya, Engkau tahu ibu memukulku lagi karena aku nakal. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.

Tuhan, Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini… di sini… aku rasa Engkau tahu yang ini kan? Tolong jangan marahi Ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku… Itulah mengapa dia memukul kami.

Oh Tuhan… Aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei… ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya.

Ooops aku harus pergi sekarang.

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, “Bapa Pendeta, Bapa Pendeta, aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun. Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah… suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andy tiba dari pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan… Aku…”

Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa???!!! keluar…!!!

Andy begitu terkejut, “Di mana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, ini hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya... ”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

Sambil membuat tanda salib ia berkata “Keluarlah bocah… kamu akan mendapatkannya! !!

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.

Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang, sebab di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan.

Andy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut.

Waktunya hanya sedikit untuk menghindar, tapi itu tidaklah cukup…

Dan…

Andy pun tewas tertabrak. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang yang tak bernyawa tersebut.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, “Maaf Tuan, apakah Anda keluarga bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya?

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, “Dia adalah sahabatku.”

Hanya itulah yang dia katakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?

Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” ucap ibu Andy terisak.

Apa katanya?” Tanya pak pendeta.

Ayah Andy berkata, “Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik.”

Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu…”

Apa yang dia katakan?”

“Dia berkata kepada puteraku… ‘Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.'”

Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian, semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia… aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku… Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku.”

“Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta, siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena Anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal.”

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes di pipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan.”

Bagaimana caranya menghentikan gosip?

Mei 19, 2008

Pernah aku ke pesta, dan besoknya beredar gosip aku berhubungan seks dengan salah satu cowok disana. Itu sama sekali tidak benar!” –Linda*

Kadang aku dengar gosip aku berpacaran dengan si anu, padahal kenal pun tidak! Banyak orang yang bergosip tidak mau repot-repot mengecek faktanya.” –Mikhael.

*Gara-gara gosip, hidupmu dapat lebih penuh intrik daripada film atau sinetron. Tanyalah Amelia yang berumur 19 tahun. “Aku terus jadi bulan-bulanan gosip,” katanya. “Aku dikabarkan hamil, dan melakukan aborsi, jadi pengedar, pembeli dan pemakai narkoba. Kenapa orang tega seperti itu mengenai aku? Sungguh, aku tidak habis pikir!“.
* Nama-nama dalam artikel ini telah diubah.

Gosip Canggih.

Dulu, sewaktu orang tuamu masih muda, gosip terbaru paling sering beredar dari mulut ke mulut. Tapi sekarang, gosip sudah canggih. Dengan e-mail dan pesan instan, orang yang berniat jahat dapat menodai reputasimu dengan tanpa mungucapkan sepatah katapun. Dengan beberapa ketikan saja, terkirimlah gosip keji kepada belasan orang yang sangat antusias menerimanya.

Ada yang mengatakan bahwa internet dengan cepat menggantikan telepon sebagai sarana favorit untuk bergosip. Bahkan ada situs web yang seluruhnya dirancang untuk mempermalukan orang. Yang lebih umum, blog-situs blog yang berisi jurnal-jurnal pribadi –sarat dengan gosip yang tidak akan pernah terucap dari mulut seseorang.

Gosip yang baik?

Apakah pernyataan berikut benar atau salah?

Gosip selalu jelek!  Vs Gosip ada yang baik?

Apa jawaban yang benar? Sesungguhnya, hal itu tergantung pada bagaimana kita mendefinisikan “gosip“. Jika kata itu sekedar  memaksudkan obrolan santai, kadang-kadang itu mungkin tidak ada salahnya. Bagaimanapun juga, Alkitab memberi tahu kita untuk “berminat pada kehidupan orang lain“. Namun, ini tidak berarti kita menjadi orang yang usil dengan masalah yang tidak ada hubungannya dengan kita. Lihat konteks ayatnya di bawah ini:

Filipi 2 : 4
dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan keinginannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Namun, obrolan santai sering berisi informasi yang berguna, misalnya siapa yang akan menikah, yang baru punya bayi, dan yang perlu bantuan. Sebenarnya, kita tidak bisa mengatakan kita peduli terhadap orang lain jika kita tidak pernah membicarakan mereka.

Akan tetapi, obrolan santai dapat dengan mudah berbelok menjadi gosip yang berbahaya. Misalnya, komentar yang polos bahwa “Bob dan Susi pasti serasi kalau mereka berpacaran” mungkin di ulangi “Bob dan Susi sedang berpacaran” –padahal Bob dan Susi tidak punya perasaan apa-apa satu sama lain. Tapi, mungkin menurutmu, ‘Ini kan bukan problem serius’–kecuali, tentu saja, jika kamu adalah Bob dan Susi!

Yuli, 18 tahun, pernah jadi korban gosip semacam itu sehingga membuatnya sakit hati. “Aku marah sekali,” katanya, “dan itu membuatku sulit mempercayai orang lain“.”

Jane, 19 tahun, juga mengalami situasi serupa. “Akhirnya, aku menjauhi cowok itu, yang katanya jadi pacarku,” ujarnya, dan menambahkan, “Rasanya itu tidak adil, sebab tadinya kami berteman baik dan aku merasa bahwa kami seharusnya bisa mengobrol tanpa menimbulkan gosip.”

Jelaslah, gosip yang berbahaya bisa berdampak sangat negatif. Namun, banyak orang yang disakiti oleh kebiasaan ini akan langsung mengakui bahwa mereka pun sering ikut bergosip. Faktanya, jika ada komentar meremehkan yang sedang dibicarakan, kita bisa sangat tergoda untuk ikut nimbrung. Mengapa? “Itu semacam pelarian,” kata Ferry, 18 tahun. “Orang lebih suka menyoroti problem orang lain ketimbang problemnya sendiri.” Maka, apa yang dapat kamu lakukan seandainya obrolan yang netral berbelok menjadi gosip yang berbahaya?

Kemudi-kan obrolan dengan cermat!

Bayangkan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mengemudi dijalan raya yang padat. Diluar dugaan, suatu situasi bisa timbul yang mengharuskan kamu berganti jalur, mengalah, atau berhenti sama sekali. Jika kamu waspada dan mengutamakan keselamatan, kamu bisa melihat apa yang ada didepan lalu mengambil tindakan yang sesuai.

Demikian pula dengan obrolan. Biasanya kamu tahu jika pembicaraan mulai mengarah ke gosip yang berbahaya. Apabila hal itu terjadi, dapatkah kamu dengan terampil seolah-olah mengganti jalur? Jika tidak, waspadalah–gosip dapat merusak. “Aku mengatakan sesuatu yang kurang baik mengenai seorang cewek –bahwa dia gila cowok–dan itu sampai ke telinganya,” ujar Mikhael.
Aku tidak akan pernah lupa suaranya saat dia berbicara langsung kepadaku, betapa sakit hatinya atas komentarku yang ceroboh. Kami memang berbaikan, tapi aku masih merasa tidak enak karena tahu sudah menyakiti seseorang dengan cara begitu!” lanjutnya.

Memang, kita mungkin perlu memberanikan diri untuk mengerem obrolan yang mulai mengarah ke gosip. Tetapi, Cindy yang berumur 17 tahun menandaskan,”Kamu perlu berhati-hati dengan apa yang kamu katakan. Jika kamu belum mendengarnya dari sumber yang dapat dipercaya, kamu bisa menyebarkan dusta.”

Agar terhindar dari gosip yang berbahaya, ikutilah nasihat dari ayat-ayat Alkitab berikut:

Amsal Sulaiman 10: 19
“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

Aplikasi ayat diatas: Semakin banyak kamu berbicara, semakin besar pula kemungkinan kamu mengatakan sesuatu yang belakangan kamu sesali. Pada akhirnya, lebih baik kamu dikenal sebagai pendengar yang kalem ketimbang orang yang suka omong besar!

Amsal Sulaiman 15 : 28
“Hati orang benar menimbang-nimbang jawabannya, tetapi mulut orang fasik mencurahkan hal-hal jahat.”

Aplikasi ayat diatas : Pikir dulu sebelum bicara !

Surat Efesus 4 ; 25
“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, …”

Aplikasi ayat diatas: Sebelum menyampaikan informasi, pastikan dulu kebenarannya.

Injil Lukas 6 : 31
“Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang berbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.”

Aplikasi ayat diatas: Sebelum menceritakan bahkan keterangan yang akurat mengenai seseorang, tanyalah dirimu, ‘Bagaimana perasaanku seandainya aku jadi dia dan seseorang membocorkan fakta ini mengenai diriku?”

Surat Roma 14 : 19
“Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun”

Aplikasi ayat diatas: Bahkan keterangan yang benar-pun dapat berbahaya jika isinya tidak membina.

Surat Tesalonika yang pertama 4 : 11
“Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu”

Aplikasi ayat diatas: Jangan sibuk dengan urusan orang lain. Ada banyak cara yang lebih baik untuk menggunakan waktumu.

Jika kamu-lah korbannya

Kamu mungkin setuju bahwa penting untuk mengendalikan lidah dan menahan diri agar tidak bergosip tentang orang lain. namun, jika kamulah yang digosipkan, kamu mungkin akan lebih serius memikirkannya.

Aku merasa tidak akan pernah punya teman lagi,” kata Yohana, 16 tahun, yang menjadi korban gosip yang keji. “Beberapa malam aku terus menangis sampai tertidur. Rasanya hancur sudah reputasiku!”

Apa yang kamu lakukan jika kamu menjadi korban gosip yang tidak beralasan?

  • Pertimbangkan penyebabnya. Cobalah pahami apa yang mendorong orang bergosip. Ada yang berbuat begitu untuk meraih popularitas, membuat mereka kelihatan tahu segalanya. “Mereka ingin orang lain menganggap dirinya keren hanya karena mereka bisa membicarakan orang lain.” kata Karina, 14 tahun. Kurang percaya diri dapat menyebabkan beberapa remaja meremehkan orang lain hanya supaya mereka merasa lebih baik. Renata, 17 tahun, menyebutkan alasan yang lain lagi. “Orang-orang merasa bosan,” katanya. “Mereka ingin menciptakan sensasi dan membuat hidup lebih menarik dengan memulai gosip.”
  • Kendalikan Emosimu. Orang yang terluka akibat gosip yang berbahaya dan tidak mengendalikan rasa malu dan marahnya serta bereaksi secara berlebihan sehingga belakangan menyesalinya. “Siapa yang lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.” kata Amsal 14 : 17. Meski ini lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, pada saat inlah kamu terutama harus menahan diri lebih daripada biasanya. Jika kamu dapat melakukannya, kamu tidak akan jatuh ke dalam jebakan yang sama dengan orang yang menggosipkan kamu.
  • Pahami niat yang sesungguhnya. Tanyalah dirimu, ‘Apakah aku yakin bahwa yang aku dengar itu memang mengenai diriku? Apakah itu gunjingan atau kesalahpahaman serius? apakah aku terlalu cepat tersinggung?”. Tentu saja, tidak alasan yang bisa membenarkan gosip yang berbahaya. Namun, reaksi yang berlebihan bisa menimbulkan kesan yang lebih buruk tentang dirimu ketimbang gosip tersebut. Karena itu, alangkah baiknya jika kamu mengikuti cara yang membantu Renata. “Aku biasanya sakit hati jika ada orang yang mengatakan sesuatu yang buruk mengenai aku, tapi aku coba untuk tidak terlalu ambil pusing,” katanya. “Alasannya, minggu depan mereka mungkin bakal membicarakan orang atau hal yang lain lagi.”*

[ *Dalam beberapa keadaan mungkin ada baiknya jika kamu mencari cara yang bijaksana untuk menemui langsung orangnya. namun, dalam banyak kasus, hal ini tidak perlu dilakukan, sebab “Kasih menutup banyak sekali dosa“.–1 Petrus 4:8]

Pertahanan Terbaik

Alkitab mengakui bahwa “kita seringkali tersandung“, dan menambahkan, “Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna.”

Yakobus 3 : 2,
“Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya”.

Jadi, tidaklah bijaksana jika kita selalu menanggapi dengan serius setiap omongan tentang diri kita. Pengkhotbah 7: 22 mengatakan, “Karena hatimu tahu bahwa engkau juga telah kerapkali mengutuki orang-orang lain“.

Sewaktu menjadi korban gosip yang berbahaya, pertahanan terbaik adalah tingkah lakumu yang baik. Yesus Kristus mengatakan, ” …Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya“, (matius 11 : 19). Jadi, cobalah untuk benar-benar bersikap ramah dan pengasih. Kamu mungkin tidak akan menyangka  betapa cepatnya hal itu dapat menghentikan gosip–atau, setidaknya kamu bisa lebih tahan menghadapi dampaknya.

Tujuh langkah menjadi orang tua yang lebih baik

Mei 3, 2008

Langkah 1. Carilah nasihat yang baik

Mengapa langkah ini penting? kali pertama orang tua menimang anaknya yang baru lahir, mereka bisa jadi diliputi berbagai emosi yang saling bertentangan. “Saya senang sekali dan sangat kagum,” kata Brett, seorang ayah yang tinggal di Inggris. “Namun, saya pun menyadari tanggung jawab yang luar biasa di pundak saya dan saya merasa tidak siap.” Monica, seorang ibu yang tinggal di Argentina, mengatakan, “Saya khawatir apakah saya bisa mengurus kebutuhan putri cilik saya. Saya bertanya-tanya, ‘sanggupkah saya mendidiknya menjadi orang dewasa yang bertanggung-jawab?‘ “.

Dapatkah anda memahami sukacita dan kecemasan para orang tua tersebut? Tidak di ragukan, membesarkan anak adalah tugas tersulit tetapi memuaskan, yang melelahkan tetapi bermanfaat, bagi siapapun juga. Seperti kata seorang ayah, “Anda hanya punya satu kesempatan saja membesarkan anak anda“. Mengingat begitu besarnya pengaruh orang tua atas kesehatan serta kebahagiaan anak-anak, anda bisa jadi merasa sangat membutuhkan nasihat yang andal tentang cara menjadi orang tua yang lebih baik.

Tantangannya: kalau ditanya, setiap orang tampaknya mempunyai nasihat tentang membesarkan anak. Dahulu, pasangan yang baru menjadi orang tua mengandalkan contoh orang tua mereka atau keyakinan agama mereka sebagai pembimbing. Namun, disejumlah negeri, unit keluarga semakin merosot dan agama telah kehilangan pengaruhnya. Akibatnya, banyak orang tua berpaling kepada para pakar dalam bidang pengasuhan anak. Beberapa hal yang dikatakan para pakar ini didasarkan pada prinsip-prinisip yang benar. Dalam kasus-kasus lain, nasihat mereka bisa saling bertentangan dan cepat dianggap ketinggalan zaman.

Solusinya: Carilah nasihat dari satu-satunya Pribadi yang paling tahu cara membesarkan anak – – Pencipta kehidupan Manusia, yakni Allah.

Kisah Para Rasul 17 : 26-28
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Firman-Nya, Alkitab, berisi nasihat yang terus terang serta contoh-contoh praktis yang dapat membantu anda menjadi orang tua yang lebih baik. “

“Aku hendak mengajar dan
menunjukkan kepadamu
Jalan yang harus kau tempuh;
Aku hendak memberi nasihat,
mata-Ku tertuju kepadamu.
Mazmur 32 : 8

Nasihat apa yang Allah berikan kepada para orang tua yang dapat membantu mereka membesarkan anak-anak yang bahagia?

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri” –Amsal 3 : 5.

Langkah 2. Ciptakan rumah yang penuh kasih sayang

Mengapa langkah ini penting? Anak-anak butuh kasih sayang dan tanpa itu perkembangannya bisa buntu. Pada tahun 1950an, antropolog M.F. Ashley Montagu menulis, “Yang paling dibutuhkan tubuh manusia untuk perkembangannya adalah nutrisi kasih; obat mujarap untuk tetap sehat adalah merasakan kasih sayang, khususnya selama enam tahun pertama kehidupan“. Para penliti modern setuju dengan kesimpulan Montagu bahwa “perkembangan seorang anak bisa sangat terhambat apabila tidak mendapat santapan kasih sayang yang cukup“.

Tantangannya: Hidup dalam dunia yang mementingkan diri dan tanpa kasih ini membuat ikatan keluarga menjadi tegang. Coba perhatikan ayat di bawah ini :

2 timotius 3: 1 – 5
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berfikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Pasangan suami-istri mungkin mendapati bahwa tuntutan keuangan dan emosi dalam membesarkan anak membuat problem perkawinan yang sudah ada semakin menjadi-jadi. Misalnya perbedaan pendapat antara suami istri mengenai cara mendisiplin anak dan memberinya hadiah bisa menambah ketegangan antara orangtua yang memang sudah sulit berkomunikasi.

Solusinya: Rencanakan waktu bersama sebagai keluarga secara teratur. Suami istri juga perlu merencanakan waktu bersama untuk berdua-duaan. [Amos 3: 3,  “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”). Gunakan waktu dengan bijaksana setelah anak-anak tidur. Jangan biarkan TV merampas saat-saat berharga ini. Pertahankan kemesraan dalam perkawinan dengan sering menyatakan cinta kasih terhadap satu sama lain. Ketimbang terus “mengecam“, setiap hari carilah cara-cara untuk memuji teman hidup anda. Coba lihat beberapa ayat di bawah ini :

Amsal 25 : 11
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

Kidung Agung 4: 7 – 10
Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu. Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, datanglah padaku dari gunung Libanon, turunlah kepadaku dari puncak Amana, dari puncak Senir  dan Hermon, dari liang-liang singa, dari pegunungan tempat macan tutul.
Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan suntai kalung dari perhiasan lehermu.
Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku. Jauh lebih nikmat cintamu daripada anggur, dan lebih harum bau minyakmu daripada segala macam rempah.

Mazmur 103 : 9
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

Amsal 31 : 28
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

Beritahu anak-anak anda bahwa anda mengasihi mereka. Allah memberikan teladan bagi para ornag tua dengan secara terus terang menyatakan kasih-Nya kepada Putra-Nya, Yesus. Coba lihat :

Matius 3 : 16 – 17
Sesudah dibabtis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun keatas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga, “Inilah anak-Ku yang ku kasihi, kepada-nyalah aku berkenan”.

Matius 17 : 1 – 5 ( perhatikan ayat ke 5 )
Ayat 1: Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Disitu mereka beridiri saja.
Ayat 2: lalu wajah Yesus berubah rupa di depan mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar seperti terang.
Ayat 3: Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Ayat 4: Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada ditempat ini. Jika engkau mau, biarlah kudirikan disini tiga kemah, satu untuk engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”.
Ayat 5: Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Ku kasihi, kepada-Nyalah aku berkenan, dengarkanlah Dia”.
Ayat 6: Mendengar itu tersungkurlah murid-muridNya dan mereka sangat ketakutan.
Ayat 7: lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata; “Berdirilah, jangan takut!”.
Ayat 8: Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.

Fleck, seorang ayah yang tinggal di Austria, mengatakan, ” Saya mendapati bahwa anak-anak mirip bunga. Sebagaimana tanaman kecil ini berpaling ke arah matahari untuk mendapati cahaya dan kehangatan, anak-anak berpaling kepada orang tua untuk mendapatkan kasih sayang dan kepastian bahwa mereka adalah anggota keluarga yang sangat dihargai.

Tidak soal anda menikah atau adalah orang tua tunggal, apabila anda membantu keluarga anda mengembangkan kasih sayang kepada satu sama lain dan kepada Allah, kehidupan keluarga anda akan menjadi lebih baik.

Namun, apa yang Firman Allah katakan tentang menjalankan wewenang sebagai orang tua?

 

Langkah 3: Jalankan wewenang anda.

Mengapa langkah ini penting? menurut penelitian, “anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang pengasih tetapi berwibawa – – yang mendukung anak-anak mereka tetapi menetapkan batas-batas yang tegas – – lebih unggul secara akademis, mengembangkan keterampilan sosaial yang lebih baik, merasa puas tentang dirinya, dan secara keseluruhan lebih bahagia daripada anak-anak yang orang tuanya terlalu lunak atau kelewat keras“, kata majalah Parents.

Tantangannya: Sejak bayi hingga remaja, anak-anak akan menantang hak anda untuk menjalankan wewenang atas mereka. “anak-anak cepat melihat kapan orang tua mereka takut menjalankan wewenang mereka dan kemungkinan besar akan mengalah,” tulis John Rosemond, pengarang buku Parent Power!. “Sehubungan dengan pertanyaan ‘Siapa bos disini?’ jika orang tua tidak memegang kendali, anak-anaklah yang akan mengambil alih,” katanya.

Solusinya: Jangan khawatir bahwa hubungan anda dengan anak-anak akan menjadi renggang atau mereka jadi patah semangat jika anda menjalankan wewenang anda. Allah, pemrakarsa kehidupan keluarga, tidak bermaksud bahwa anak-anak mempunyai hak yang sama untuk memutuskan cara mengatur keluarga. Sebaliknya, Ia menetapkan orang tua pada kedudukan yang berwenang dan memerintah anak-anak, “Taatilah orang tuamu.”

Lihat: Efesus 6: 1 – 4
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu didalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Anda dapat menjalankan wewenang tanpa menjadi diktator. Bagaimana? Dengan mengikuti teladan Allah. Meskipun ia mempunyai kuasa memaksa manusia, anak-anakNya, melakukan kehendak-Nya, Ia menggugah kita melalui sifat-sifat baik kita. FirmanNya menyatakan, “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48 : 18). Allah ingin kita mentaati Dia, bukan karena kita memiliki rasa takut yang tidak sehat, melainkan karena kita mengasihi-Nya. Tuntutan-Nya masuk akal dan ia tahu bahwa kita akan mendapat manfaat jika kita hidup menurut standar-standar moral-Nya.

1 Yohanes 5 : 2 – 3:
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat,

Mazmur 19 : 8 – 11
Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tidak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, Lebih indah daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bagaimana anda bisa memperoleh kepercayaan diri untuk menjalankan wewenang sebagai orang tua dengan cara yang seimbang? Pertama, anda perlu yakin bahwa Allah menuntut hal itu daripada anda. Kedua, anda harus yakin bahwa hidup menurut standar-standar moral Allah adalah hal terbaik bagi anda dan bagi anak-anak anda – – (Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.)

Apa yang khususnya harus anda lakukan untuk menjalankan wewenang anda?

Langkah 4: Tetapkan aturan keluarga dan tegakkan dengan segera.

Mengapa langkah ini penting? “Faktanya adalah, ” kata Roland Simons, seorang sosiolog di University  of Georgia, “anak-anak akan lebih baik keadaannya jika ada aturan yang jelas dan konsekuansi yang tegas. Tanpa keduanya, anak-anak akan menjadi asyik dengan diri sendiri, egois, dan tidak bahagia – – dan membuat semua orang disekitar mereka ikut sengsara.” Firman Allah menyatakan dengan sederhana, ” …tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” – – Amsal 13 : 24.

Tantangannya: Menetapkan batas-batas yang masuk akal untuk perilaku anak-anak anda dan menegakkan batas-batas tersebut butuh waktu, upaya dan kegigihan. Dan, anak-anak tampaknya memiliki dorongan alami untuk menentang batas-batas demikian. Mike dan Sonia, yang membesarkan dua anak, menyimpulkan tantangan itu dengan tepat. “Anak-anak adalah manusia cilik dengan pikiran dan keinginan sendiri serta kecendrungan bawaan untuk berdosa,” Kata mereka. Kedua orang tua ini sangat menyayangi putri-putri mereka, namun mereka mengakui, “adakalanya, anak-anak bisa keras kepala dan egois.”

Solusinya: Tirulah cara Allah berurusan dengan bangsa Israel. Salah satu cara Ia menyatakan kasih-Nya bagi umat-Nya adalah dengan menjabarkan secara jelas hukum-hukum yang Ia ingin mereka ikuti. Ia menguraikan konsekuensinya jika hukum-hukum tersebut tidak dipatuhi. Hukum-hukum tersebut yang di sampaikan melalui nabi Musa kepada bangsa Israel, yakni:

Keluaran 20 : 2 – 17
(2) Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah mesir, dari tempat perbudakan.

(3) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-KU

(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas, atau yang ada dibumi dibawah, atau yang ada didalam air dibawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

(7) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

(8.) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi  hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

(12) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu ditanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

(13) Jangan membunuh.

(14) Jangan berzinah.

(15) Jangan mencuri.

(16) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

(17) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Jadi, buatlah daftar tertulis aturan rumah tangga yang menurut anda harus dipatuhi anak-anak. Beberapa orang tua menyarankan untuk membatasi daftar semacam itu dengan beberapa aturan saja, mungkin kira-kira lima aturan. Daftar singkat aturan rumah yang dipilih dengan baik akan lebih mudah ditegakkan dan lebih mudah diingat. Cantumkan juga konsekuensinya jika aturan dilanggar. Pastikan bahwa hukumannya masuk akal dan anda siap menegakkannya. Secara rutin, tinjau aturan itu agar semua – – termasuk Mama dan Papa – – tahu persis apa yang diharapkan dari mereka.

Jika aturan dilanggar, segera lakukan konsekuensinya; lakukan dengan cara yang tenang, tegas dan konsisten. Ingat: Jika anda marah, tunggu sampai anda tenang terlebih dahulu sebelum memberikan disiplin apapun. (amsal 29:22). Namun, jangan tunda-tunda. Jangan tawar-menawar. Kalau tidak, anak anda akan berfikir bahwa aturan itu tidak perlu dianggap serius. Hal ini mirip dengan apa yang Alkitab katakan, “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” – –Pengkhotbah 8 : 11.

Apa lagi yang dapat anda lakukan untuk menegaskan wewenang anda dengan cara yang bermanfaat bagi anak-anak? 

Langkah 5: Tetapkan dan pertahankan rutinitas

Mengapa langkah ini penting? Rutinitas adalah bagian penting kehidupan ornag dewasa. Pekerjaan, ibadat, dan bahkan rekreasi biasanya mengikuti rutinitas yang ditetapkan. Orang tua merugikan anak-anak jika mereka tidak diajar untuk mengatur waktu mereka dan berpegang pada jadwal. Di pihak lain, ” penelitian memperlihatkan bahwa aturan dan jadwal membuat anak-anak akan merasa aman dan tentram serta belajar mengendalikan diri dan mandiri“, kata Dr. Laurence Steinberg, seorang profesor psikologi.

Tantangannya: hidup ini serba terburu-buru. Banyak orang tua bekerja berjam-jam, sehingga jarang punya waktu untuk anak-anak. Menetapkan dan mempertahankan rutinitas menuntut disiplin diri dan tekad untuk mengatasi sikap si anak yang pada awalnya menolak mengikuti rutinitas itu.

Solusinya:  terapkan prinsip di balik nasihat Alkitab untuk ‘membiarkan segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur’. ( 1 Korintus 14 : 40 ). Misalnya, sewaktu anak-anak masih kecil sekali, banyak orang tua dengan bijaksana menetapkan waktu tidur yang tetap dan teratur. namun, waktu tidur hendaknya dibuat menyenangkan. Tatiana, yang tinggal di Yunani dan memiliki dua anak perempuan yang masih kecil, mengatakan, “sewaktu anak-anak berbaring ditempat tidur, saya membelai mereka dan menceritakan apa yang mama lakukan sewaktu mereka disekolah. lalu, saya bertanya apakah mereka mau menceritakan apa saja yang mereka lakukan pada hari itu. Mereka merasa santai. Sering kali, mereka pun membuka isi hati mereka.”

Kostas, suami Tatiana, membacakan cerita kepada anak-anaknya. “mereka mengomentari cerita itu,” katanya, “dan seringkali kami akhirnya membahas perasaan pribadi mereka. Ini tidak akan terjadi jika saya hanya menyuruh mereka menceritakan apa yang mereka risaukan.” Tentu saja, seraya anak-anak bertambah besar, anda mungkin perlu menyesuaikan jam tidur mereka. Namun, jika anda mempertahankan rutinitas itu, anak-anak kemungkinan besar akan terus menggunakan waktu ini untuk berbicara kepada anda.

Selain itu, keluarga-keluarga akan dengan bijaksana menetapkan kebiasaan untuk makan bersama setidaknya  satu kali sehari. Guna menetapkan kebiasaan ini, jadwal makan mungkin perlu sedikit fleksibel. “Saya kadang-kadang pulang kerja agak malam,” kata Charles, ayah dua anak perempuan. “Isteri saya memberi anak-anak makanan kecil supaya tidak terlalu lapar, tetapi ia selalu menyuruh semuanya menunggu sampai kami bisa makan bersama sebagai satu keluarga. Kami membahas kegiatan hari itu, meninjau sebuah ayat Alkitab, berbicara tentang problem-problem, dan tertawa bersama. Saya ingin menekankan bahwa rutinitas ini benar-benar penting untuk kebahagiaan keluarga kami.”

Agar dapat menguasai langkah ini, jangan biarkan kesibukan mengejar harta materi menggeser rutinitas keluarga. Pastikan untuk “memilih perkara-perkara yang lebih penting“.

Apalagi yang dapat dilakukan orang tua untuk memperbaiki komunikasi dengan anak-anak?

Langkah 6: Jangan abaikan perasaan anak anda.

Mengapa langkah ini penting? Anak-anak ingin dan butuh perasaannya dipahami oleh orang-orang yang paling penting dalam kehidupan mereka, yakni orang tua mereka. Apabila orang tua mempunyai kebiasaan membantah apabila anak-anak menyatakan perasaannya, kecil kemungkinan mereka akan membuka diri dan mereka malah mulai ragu bahwa mereka bisa merasa dan berfikir sendiri.

Tantangannya: Anak-anak cenderung menyatakan pikiran dan emosi dengan istilah-istilah yang ekstrim. Memang, beberapa hal yang dikatakan anak-anak bisa meresahkan orang tua. Misalnya, seorang anak yang sedang frustrasi mungkin mengatakan , “Aku sudah bosan hidup*. Secara naluriah orang tua mungkin menyanggah, “Jangan bicara sembarangan!”. Orang tua mungkin khawatir bahwa jika mereka menanggapi perasaan atau pikiran negatif sang anak, berarti mereka menyetujuinya.

[ *Jangan anggap remeh pernyataan apapun dari anak-anak anda tentang keinginan mengakhiri kehidupan mereka.]

Solusinya: Terapkan nasihat Alkitab untuk ” …cepat mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah“. Lihat Ayatnya di bawah ini:

Yakobus 1: 19 – 20
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Perhatikan bahwa TUHAN Allah tidak mengabaikan perasaan negatif dari banyak hamba-Nya yang setia, tetapi memastikan hal itu dicatat dalam Alkitab. Perhatikan kutipan kejadian hamba Tuhan yang pada suatu waktu mengalami perasaan negatif :

Kejadian 27 : 46
Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang istri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?.”

Contoh lain adalah Ayub. Sewaktu mengalami cobaan yang ekstrim (berat), ia mengatakan bahwa ia ingin mati saja. Seperti yang kita ketahui, Nabi ayub, seorang yang benar dan saleh, pada suatu hari kehilangan 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan (meninggal), juga ribuan ekor kambing domba dan keledai dan unta, bahkan ia di timpa barah yang busuk dari telapak kaki sampai batu kepalanya. (lihat kitab Ayub)

Namun, ketimbang mengabaikan perasaan Ayub dan menyuruhnya diam, Allah mengangkat martabat Ayub dan secara sabar mendengarkan dia mencurahkan isi hatinya. Baru setelah itu, Allah dengan ramah mengoreksi dia.  Seorang ayah Kristen mengatakan sebagai berikut, “karena Allah membiarkan saya mencurahkan isi hati saya kepada-Nya dalam do’a, rasanya tidak adail kalau saya tidak membiarkan anak-anak mencurahkan perasaannya yang positif maupun negatif kepada saya.”

Kali berikut anda tergoda untuk memberitahu anak anda, “jangan merasa seperti itu” atau “jangan berfikir yang tidak-tidak“, ingatlah perkataan Yesus Kristus yang termasyur : “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka“. (lukas 6:31). Sebagai contoh: bayangkan anda telah diperlakukan dengan kasar ditempat kerja atau mengalami kekecewaan, mungkin karena kesalahan anda sendiri. Anda mengungkapkan kekesalan anda kepada seorang teman dekat dan mengatakan bahwa anda sudah tidak betah lagi bekerja disana. Apa yang anda harapkan darinya? menyuruh anda untuk tidak merasa seperti itu, kemudian langsung menegaskan bahwa yang salah adalah anda sendiri? Atau, apakah anda lebih suka jika ia mengatakan, “pasti sulit, ya. Ini hari yang berat untukmu!?

Anak-anak serta orang dewasa jauh lebih mudah menerima nasihat jika mereka merasa bahwa orang yaang memberikan nasihat benar-benar memahami mereka dan kesulitan yang dihadapi. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat menyakinkan. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” [amsal 16 : 23 -24].

Bagaimana anda memastikan bahwa nasihat apapun yang diberikan dianggap serius?

 

Langkah 7: Ajarlah melalui teladan.

Mengapa langkah ini penting? Kita belajar dengan melihat tindakan ornag lain. Kata-kata seringkali hanya menyampaikan informasi. Misalnya, orang tua bisa memberitahu anak-anak untuk bersikap respek dan berkata jujur. Akan tetapi, apabila orangtua yang sama ini meneriaki satu sama lain atau meneriaki anak-anak serta berbohong sebagai dalih untuk tidak melakukan kewajiban yang merepotkan, mereka mengajar anak-anak bahwa beginilah seharusnya orang dewasa bertingkah laku. Meniru orang tua adalah “salah satu cara belajar yang paling ampuh bagi anak-anak“, kata pengarang Dr. Sal Severe.

Tantangannya: Orang tua tidak sempurna. ” …semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” tulis Rasul Paulus. (Roma 3:23). Mengenai mengendalikan tutur kata kita, Sang murid, Yakobus menulis, “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; …” [Yakobus 3 : 8], selain itu, bukan hal yang tidak lazim bagi anak-anak untuk menguji kesabaran oranag tua sampai habis-habisan. “Saya heran betapa mudahnya anak-anak saya bisa membuat saya hilang kesabaran,” kata Larry, ayah dua anak, yang biasanya tenang dan berpengendalian diri.

Solusinya: Berupayalah menjadi contoh yang baik – – bukan yang sempurna. Dan, sewaktu anda sesekali berperilaku buruk, gunakan itu untuk mengajarkan pelajaran yang positif. “Apabila saya hilang kesabaran terhadap anak-anak atau apabila saya membuat keputusan yang buruk sehingga merugikan mereka, saya akan mengakui kesalahan dan meminta maaf,” kata Chris, ayah dua anak. Hal ini mengajar anak-anak bahwa orang tua juga bisa melakukan kesalahan dan bahwa kita semua perlu berupaya memperbaiki tingkah laku kita. Kostas, yang disebutkan sebelumnya, mengatakan, “Saya mendapati bahwa karena saya meminta maaf sewaktu hilang kesabaran, putri-putri saya belajar meminta maaf sewaktu mereka berbuat salah.

Tuhan Allah berfirman, ” …janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan” [Efesus 6 : 4]. Sewaktu seseorang mempunyai wewenang mengatakan sesuatu tetapi melakukan sebaliknya, anak-anak bisa sama kesalnya dengan, atau mungkin lebih kesal daripada, orang dewasa terhadap orang tersebut. Karena itu, tanyai diri anda pertanyaan berikut pada akhir setiap hari:

Jika sepanjang hari saya tidak mengucapkan sepatah kata pun, pelajaran apa yang ditarik anak-anak dari tindakan saya? Apakah ini adalah pelajaran yang sama yang saya coba ajarkan sewaktu berbicara kepada mereka?

Penutup:

Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? [Roma 2 : 21]
 

Kasih yang sejati

April 13, 2008

Mengapa penulis Amsal 27 mengatakan “Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi” ?. Kasih tidak akan bermanfaat bagi orang yang dikasihi bila kasih tersebut tidak diungkapkan dalam tindakan nyata. Sadarilah bahwa ungkapan kasih yang sejati tidak harus bernada postitif seperti pemberian materi, perhatian, dorongan, tetapi kasih juga bisa diungkapkan bernada negatif seperti larangan, teguran dan hukuman. Yang penting untuk diingat, ungkapan kasih yang sejati harus selalu dilandasi oleh motivasi untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi. Kasih yang sejati tidak mengandung ‘hidden’ agenda (agenda tersembunyi) yang bersifat negatif.

Amsal 27 ini juga mengatakan:
“Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah”. ( Amsal 27: 6)

Ungkapan kasih yang bernada positif saja (tanpa diimbangi dengan ungkapan kasih yang bernada negatif) bisa menghancurkan hidup orang yang kita kasihi. Ungkapan kasih yang bernada positif dan bernada negatif bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tuhan Yesus bersabda:

Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan kalau ia menyesal, ampunilah dia. Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia”. (Lukas 17: 3 dan 4)

2 Timotius 4: 2
Beritakanlah fiman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Marilah kita mengasihi dengan kasih yang sejati. Ungkapan kasih kita terhadap sesama haruslah dilandasi oleh motivasi yang murni. Bila kita memuji atau memberi sesuatu terhadap sesama, kita harus melakukannya denga ketulusan hati. Kasih yang sejati tidak selalu menyenangkan, tetapi kaish yang sejati selalu mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi.

Ayat penutup:

Roma 12: 9

“Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik”.

Bertekad untuk kaya secara rohani

April 7, 2008

Supaya kaya secara materi, perlu upaya dan pengorbanan yang terfokus. Demikian pula untuk kaya secara rohani. Hal ini tersirat dari kata-kata Yesus Kristus berikut ini,: “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; (Matius 6:20). Kekayaan rohani tidak terkumpul dengan sendirinya. Sebagaimana mempunya rekening bank tidak secara otomatis membuat seseorang kaya secara keuangan, sekedar mempunyai agama tidak membuat seseorang kaya secara rohani. Untuk memupuk hubungan yang erat dengan Allah, berkembang sebagai manusia rohani, dan menjadi kaya akan sifat-sifat rohani, perlu tekad, waktu, upaya yang terfokus, dan pengorbanan.

(Amsal Sulaiman 2 : 1 – 6 )
Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,
ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menunjukkan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian
.

Bisakah memiliki keduanya?

Bisakah seorang kaya secara rohani dan berlimpah materi sekaligus? Mungkin saja, tetapi hanya salah satu yang bisa dikejar dengan sukses. Yesus berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon(kekayaan). (matius 6 : 24B).

Mengapa tidak?

Karena pengejaran kekayaan rohani dan kekayaan materi bisa bertentangan. Yang satu akan mengganggu yang lainnya. Jadi sebelum memberitahu murid-muridnya untuk mengumpulkan kekayaan rohani, Yesus mengatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; dibumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.” – – (Matius 6: 19)

Jika ada yang mengabaikan nasihat Yesus dan mencoba mengejar kekayaan rohani serta kekayaan materi sekaligus, apa yang akan terjadi? Yesus mengatakan, “Tidak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon”. (Matius 6: 24)

Apabila seseorang mengejar kedua-duanya, kegiatan rohani, walaupun hanya dilakukan sekadarnya, bisa terasa sebagai penghalang. Sebaliknya dari mengandalkan Allah, ada yang mungkin bahkan mengandalkan uang dan apa yang bisa dibeli dengan uang sebagai sarana untuk mengatasi kekuatiran hidup. Seperti yang Yesus katakan, “Karena dimana hartamu berada, disitu juga hatimu berada“.

Setiap ornag kristen perlu memikirkan nasihat Alkitab seperti itu dengan sungguh-sungguh sebelum memutuskan dimana ia memfokuskan waktunya, perhatiannya dan hatinya. Walaupun tidak memberikan batasan spesifik tentang berapa banyak materi yang boleh dicari seorang kristen, Allah menyebutkan sanksinya jika ada yang mengabaikan peringatan-Nya tentang ketamakan.

Atau tidak tahukah kamu , bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah?
Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

1 Korintus 6 : 9, 10

Orang yang menyepelekan nasihat Alkitab dan memupuk tekad untuk menjadi kaya menderita secara rohani, mental dan emosi. Sebaliknya orang yang menyadari kebutuhan rohaninya akan berbahagia. Pastilah pencipta kita tahu apa yang terbaik untuk kebahagiaan dan kesejahteraan kita.

Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang mahakudus, Allah Israel:
“Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau dijalan yang harus kau tempuh.
Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tak pernah berhenti.
Yesaya 48: 17, 18

Pilihan yang TIDAK akan pernah anda sesali

Mana yang akan anda dahulukan, Allah atau kekayaan? kita tentu saja harus memperhatikan kebutuhan materi kita. Dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, rasul Paulus mengatakan, “Tetapi apabila ada sesorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman“. Rasul Paulus juga menganjurkan orang kristen untuk menaruh pengharapan mereka, bukan pada uang, tetapi pada Allah dan menganjurkan mereka untuk “menjadi kaya dalam berbagai kebajikan” ( 1 Timotius 5: 8; dan 6:17, 18).

Apa yang menjadi fokus perhatian anda? apa yang anda kejar? yang utama diantara perbuatan-perbuatan baik yang paulus maksudkan adalah kegiatan memberitakan Injil (Matius 28: 19, 20). Sewaktu orang-orang kristen dengan kemauan sendiri menyederhanakan kehidupan mereka, mereka tidak melakukannya hanya untuk bersantai dan menikmati hidup, tetapi agar bisa mempunyai andil yang lebih besar dalam pekerjaan yang memuaskan ini, mereka sedang “mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik baginya diwaktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya” dalam dunia baru yang Allah janjikan. Dan, bahkan sekarang, mereka merasakan bahwa kekayaan rohani adalah “Oh betapa jauh lebih baik … daripada memperoleh emas!”.

Perhatikan pengalaman Eddie, suatu waktu keluarganya kehilangan seluruh aset mereka, dan mereka terpaksa pindah rumah. Eddie menjelaskan, ” Saya selalu khawatir tentang apa jadinya kami seandainya kami sampai tidak mempunyai apapun. Nah, waktu itu kami kehilangan semuanya. Dan, tahukah anda apa yang terjadi? Tidak apa-apa! Kami masih makan, minum dan berpakaian. Allah menyediakan kebutuhan kami, dan belakangan kami bisa pulih. Pengalaman ini mengajar saya untuk sungguh-sungguh mempercai janji Yesus Kristus di Matius 6:33 – – Bahwa jika kita memprioritaskan Kerajaan Allah, kita tidak perlu khawatir tentang kebutuhan materi kita”. Sekarang Eddie melayani Tuhan sepenuh waktu. Mereka memiliki apa yang mereka butuhkan secara materi. Dan yang lebih penting lagi, mereka kaya secara rohani.

Manfaat yang tak ternilai

Tidak seperti harta di bumi, yang dapat dicuri, kekayaan rohani bersifat kekal.

(Amsal Sulaiman 23: 4, 5)
Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu itu
Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali.

(matius 6: 20)
Tetapi kumpulkanlah bagimu harta disorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya

Memang, untuk kemajuan rohani lebih sulit diukur. Untuk menentukan sejauh mana kasih, sukacita atau iman seseorang telah bertumbuh tidaklah semudah menilai kemajuan seseorang secara keuangan. Namun upah kekayaan rohani tak ternilai. Mengenai murid-murid yang mau meninggalkan bahkan rumah dan ladang mereka – – ya, sarana penghidupan mereka – –  guna memberi tempat untuk hal-hal rohani, Yesus mengatakan:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.
(Markus 10: 29, 30)

Mana yang akan anda prioritaskan dalam kehidupan? Allah atau kekayaan?

Apakah anda sakit karena mengejar uang?

April 6, 2008

Seandainya besok anda menjadi sangat kaya, apa yang akan anda lakukan? berantai dan menikmati hidup? berhenti dari pekerjaan dan menggunakan lebih banyak waktu bersama keluarga dan sahabat? Meniti karier baru yang benar-benar anda sukai? Yang menarik, kebanyakan orang yang menjadi kaya tidak melakukan hal-hal tersebut. Malah, mereka mengabdikan sisa hidup mereka untuk mencari lebih banyak uang – – entah untuk melunasi utang-utang baru atau hanya untuk memperkaya diri.

Namun, beberapa orang yang menjalani kehidupan seperti itu mulai menyadari dampak buruk materialisme terhadap kesehatan mereka, keluarga mereka dan karakter moral anak-anak mereka. Berbagai buku, artikel, acara televisi dan video telah memperingatkan tentang bahayanya gaya hidup berlebihan, dan, malahan, menganjurkan orang memilih gaya hidup sederhana. Sejumlah narasumber menunjukkan bahwa terlalu asyik mengejar materi dapat membuat anda sakit – mental, emosi dan bahkan fisik.

Tentu saja, keprihatinan akan bahaya materialisme bukanlah hal baru. Sekitar 2.000 tahun yang lalu, Alkitab menyatakan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh kedalam berbagai pencobaan, kedalam jerat dan kedalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan mencelakakan, yang menenggelamkan manusia kedalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” – – (1 timotius 6: 9, 10.)

Namun, benarkah itu? Apakah orang hidup demi uang dan materi benar-benar menderita? Atau, apakah mereka yang mempunyai segalanya – – kemakmuran, kesehatan dan keluarga yang bahagia?

Bertekad untuk menjadi kaya (secara materi) dan pengaruhnya terhadap anda

Dalam dunia ini, yang 850 juta penduduknya kelaparan, mungkin sulit untuk menganggap hidup berlebihan sebagai suatu masalah. Tetapi, tidakkah anda perhatikan ayat yang dikutip diatas memperingatkan bukan terhadap uang dan kekayaan, melainkan terhadap cinta akan uang dan tekad untuk menjadi kaya? Apa akibatnya jika orang yang hidup demi kekayaan dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang? Pertama-tama, pikirkan pengaruhnya terhadap anak-anak mereka.

Pengaruhnya terhadap anak-anak

Diperkirakan bahwa dalam satu tahun saja, seorang anak di Amerika rata-rata menonton 40.000 tayangan komersial ditelevisi. Selain itu, ada berbagai video game , perangkat musik yang canggih, program komputer, dan baju bermerek terkenal yang anak-anak lihat di took dan rumah teman-teman mereka. Lalu bayangkan permintaan bertubi-tubi yang harus dihadapi para oran tua. Ada ornag tua yang memenuhi semua permintaan anak-anak mereka. Mengapa?

Karena tidak mendapatkan barnag-barang mewah semasa kecil, ada orang tua yang ingin sekali agar anaknya tidak sampai merasa kekurangan. Orang tua lain takut tidak akan dikasihi lagi oleh anak-anak mereka jika menolak permintaan anak-anak itu. “[orang tua] ingin menjadi sahabat karib anak-anak mereka dan ingin anak-anak mereka bersenang-senang,” kata salah seorang pendiri kelompok pendukung untuk orang tua di Boulder, Colorado, As. Orang tua yang lain lagi berharap bahwa dengan memberi anak-anak hadiah berlimpah, mereka bisa menebus banyaknya waktu yang mereka gunakan di tempat kerja, jauh dari anak-anak mereka. Alasan lain mungkin adalah setelah mengalami banyak tekanan ditempat kerja sepanjang minggu, orang tua enggan menghadapi konflik yang mungkin timbul jika menolak permintaan si anak. 

Namun, apakah orang tua yang memenuhi semua permintaan anaknya sedang membantu atau merusak anak itu? Ironisnya, berdasarkan pengalaman, bukannya lebih mengasihi ayah dan ibu mereka, anak yang dimanjakan cenderung tidak tahu terima kasih. Mereka bahkan tidak menghargai hadiah-hadiah yang tadinya mereka minta dengan merengek-rengek. Seorang kepala sekolah menengah pertama mengatakan, “Menurut pengalaman saya, jika anak-anak langsung di penuhi permintaanya, dua minggu kemudian barang-barang yang mereka minta itu biasanya sudah mereka buang.”

Apa yang terjadi dengan anak-anak yang dimanjakan itu setelah dewasa? Menurut majalah Newsweek, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak seperti itu menjadi ornag dewasa yang  “sulit menghadapi berbagai kekecewaan  dalam kehidupan”. Karena tidak pernah belajar perlunya bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, beberapa diantara mereka gagal disekolah, ditempat kerja, dan dalam perkawinan, sehingga terus bergantung secara keuangan  pada orang tua mereka. Mereka juga mungkin rentan terhadap kecemasan dan depresi.

Jadi, pada akhirnya anak yang dimanjakan tidak mendapat apa-apa. Mereka tidak bisa menghargai nilai pekerjaan, tidak punya harga diri, dan tidak bisa merasakan kepuasan batin. Seorang terapis, Jessie O’Neil, memperingatkan, “Dengan mengajar anak-anak bahwa mereka bisa mendapatkan apapun kapan saja, anda membuat mereka sengsara seumur hidup.”

Apa pengaruhnya terhadap orang dewasa?

Jika anda sudah menikah, “tidak soal berapa lama anda berumah tangga atau berapa banyak uang anda, pertengkaran anda berikutnya kemungkinan besar adalah soal uang”, lapor jurnal Psychology Today. Jurnal itu juga mengatakan bahwa “cara sepasang suami istri mengatasi percekcokan dan kekecewaaan tentang uang dapat menjadi petunjuk tentang berhasil tidaknya hubungan tersebut dalam jangka panjang”. Pasangan suami istri yang terlalu mementingkan uang dan materi pastilah membuat perkawinan mereka lebih berisiko. Ya, menurut perkiraan, percekcokan tentang uang dominan dalam sebagian besar kasus perceraian.

Namun, kalaupun mereka tidak bercerai, mutu perkawinan bisa merosot jika mereka berfokus pada uang dan kemewahan yang bisa diperoleh dengan uang itu. Misalnya, suami istri yang mempunyai utang bisa lekas marah dan cepat tersinggung, masing-masing saling menyalahkan atas kekuatiran keuangan mereka. Dalam beberapa kasus, suami istri menjadi begitu sibuk dengan kekayaan materi masing-masing sehingga tidak punya waktu lagi untuk memupuk hubungan mereka. Apa yang terjadi jika salah satu diantara mereka membeli sesuatu yang mahal lalu menyembunyikan hal itu dari pasangan mereka? keadaan tersebut menjadi lahan subur untuk berkembangnya benih ketidakpercayaan, perasaan bersalah, dan saling merahasiakan – – semua itu menggerogoti perkawinan.

Beberapa orang dewasa, entah sudah menikah atau belum, telah benar-benar mengorbankan kehidupan mereka demi materialisme. Beberapa orang di Afrika selatan, yang stress karena mengikuti nilai-nilai materialisme ala barat, mencoba bunuh diri. Di Amerika Serikat, seorang pria membunuh istrinya, putranya yang berusia 12 tahun, dan dirinya sendiri, kemungkianan karena masalah keuangan.

Tentu saja, kebanyakan orang tidak mati karena mengejar kekayaan. Namun kehidupan bisa berlalu begitu saja tanpa kepuasan sewaktu mereka sibuk mencari kekayaan. Selain itu, mutu kehidupan mereka bisa merosot karena stess karena pekerjaan atau masalah keuangan menyebabkan serangan kepanikan, kesulitan tidur, nyeri kepala yang kronis atau tukak lambung – – masalah-masalah kesehatan yang dapat mempersingkat umur manusia. Dan, bahkan jika orang itu tersadar akan perlunya mengubah prioritas, dia mungkin sudah terlambat. Pasangannya mungkin tidak mempercayainya lagi, anak-anaknya mungkin sudah terganggu emosinya, dan kesehatannya mungkin sudah rusak. Bisa jadi ada kerusakan yang bisa diperbaiki, tetapi butuh upaya yang sangat besar. Orang-orang seperti ini telah benar-benar “menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, kedalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Apa yang anda inginkan?

Pada umumnya orang-orang menginginkan keluarga yang bahagia, kesehatan yang baik, pekerjaan yang memuaskan dan cukup uang untuk hidup nyaman. Agar memiliki keempat-empatnya, perlu keseimbangan. Tetapi, jika perhatian utama sesorang adalah uang, keseimbangan itu terganggu. Supaya bisa menjadi seimbang lagi, banyak orang mungkin harus rela menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih rendah, rumah yang lebih kecil, mobil yang lebih murah, atau status social yang lebih rendah. Namun berapa banyak orang yang rela mengorbankan kemewahan demi nilai-nilai yang lebih luhur? ‘saya tahu bahwa saya tidak butuh semua kemewahan itu,’ demkian pengakuan seorang wanita, ‘tetapi begitu sulit melepaskan hal-hal itu!’ Yang lain ingin melepaskannya, tetapi tidak mau menjadi yang pertama.

Bagaimana dengan anda? Jika anda sudah menemukan cara untuk menempatkan uang dan hal-hal materi pada posisi yang benar dalam kehidupan, Anda patut dipuji. Di pihak lain, apakah anda membaca artikel ini dengan terburu-buru karena standar hidup anda menuntut terlalu banyak waktu anda? Apakah anda termasuk diantara orang yang merasa perlu menyederhanakan hidup agar bisa lebih sehat secara fisik dan emosi? Maka bertindaklah dengan tegas sebelum materialisme merusak rumah tangga anda.

Untuk hidup dengan seimbang, kurangi hal-hal materi dan perlu tekad dan perencanaan yang baik. Berikut ini beberapa saran yang terbukti bermanfaat bagi bebeapa orang.

INVENTARISASI. Apa yang perlu anda beli lagi? Apa yang bisa anda singkirkan? Berlangganan majalah, CD musik? Aksesori mobil yang tidak perlu?

COBALAH SEDERHANAKAN. Jika anda sangat ragu-ragu tentang hidup sederhana, cobalah dulu selama setengah atau satu tahun. Buktikan sendiri apakah semua waktu yang selama ini anda gunakan untuk mengimpulkan uang dan harta benar-benar membuat ana lebih bahagia – atau kurang bahagia.

– SERTAKAN ANAK-ANAK DALAM PEMBAHASAN KELUARGA TENTANG PENYEDERHANAAN. Dengan begitu, mereka kemungkinan besar akan mendukung anda dan anda tidak akan kesulitan sewaktu menolak permintaan mereka.

– PIKIRKAN UNTUK MEMBERI ANAK-ANAK ANDA UANG SAKU. Entah mereka memutuskan untuk menabungnya guna membeli sesuatu yang mereka inginkan atau tidak, mereka kan belajar bersabar dan menghargai milik mereka. Mereka juga akan belajar caranya membuat keputusan.

– BELAJARLAH TEKNIK-TEKNIK UNTUK BERHEMAT. Belilah barang yang sedang diskon. Buatlah anggaran. Berpatunganlah jika menggunakan kendaraan. Kurangi pemakaian peralatan ang menggunakan listrik dan gas. Daripada membeli, pinjamlah buku dari perpustakaan.

– MANFAATKAN WAKTU LUANG. Ingatlah, tujuan anda mengurnagi hal-hal materi bukan semata-mata untuk mengurangi jumlah barang anda, melainkan untuk memberikan perhatian kepada hal yang lebih penting, seperti keluarga dan sahabat. Itukah yang sedang anda lakukan?