Tujuh langkah menjadi orang tua yang lebih baik

Langkah 1. Carilah nasihat yang baik

Mengapa langkah ini penting? kali pertama orang tua menimang anaknya yang baru lahir, mereka bisa jadi diliputi berbagai emosi yang saling bertentangan. “Saya senang sekali dan sangat kagum,” kata Brett, seorang ayah yang tinggal di Inggris. “Namun, saya pun menyadari tanggung jawab yang luar biasa di pundak saya dan saya merasa tidak siap.” Monica, seorang ibu yang tinggal di Argentina, mengatakan, “Saya khawatir apakah saya bisa mengurus kebutuhan putri cilik saya. Saya bertanya-tanya, ‘sanggupkah saya mendidiknya menjadi orang dewasa yang bertanggung-jawab?‘ “.

Dapatkah anda memahami sukacita dan kecemasan para orang tua tersebut? Tidak di ragukan, membesarkan anak adalah tugas tersulit tetapi memuaskan, yang melelahkan tetapi bermanfaat, bagi siapapun juga. Seperti kata seorang ayah, “Anda hanya punya satu kesempatan saja membesarkan anak anda“. Mengingat begitu besarnya pengaruh orang tua atas kesehatan serta kebahagiaan anak-anak, anda bisa jadi merasa sangat membutuhkan nasihat yang andal tentang cara menjadi orang tua yang lebih baik.

Tantangannya: kalau ditanya, setiap orang tampaknya mempunyai nasihat tentang membesarkan anak. Dahulu, pasangan yang baru menjadi orang tua mengandalkan contoh orang tua mereka atau keyakinan agama mereka sebagai pembimbing. Namun, disejumlah negeri, unit keluarga semakin merosot dan agama telah kehilangan pengaruhnya. Akibatnya, banyak orang tua berpaling kepada para pakar dalam bidang pengasuhan anak. Beberapa hal yang dikatakan para pakar ini didasarkan pada prinsip-prinisip yang benar. Dalam kasus-kasus lain, nasihat mereka bisa saling bertentangan dan cepat dianggap ketinggalan zaman.

Solusinya: Carilah nasihat dari satu-satunya Pribadi yang paling tahu cara membesarkan anak – – Pencipta kehidupan Manusia, yakni Allah.

Kisah Para Rasul 17 : 26-28
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Firman-Nya, Alkitab, berisi nasihat yang terus terang serta contoh-contoh praktis yang dapat membantu anda menjadi orang tua yang lebih baik. “

“Aku hendak mengajar dan
menunjukkan kepadamu
Jalan yang harus kau tempuh;
Aku hendak memberi nasihat,
mata-Ku tertuju kepadamu.
Mazmur 32 : 8

Nasihat apa yang Allah berikan kepada para orang tua yang dapat membantu mereka membesarkan anak-anak yang bahagia?

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri” –Amsal 3 : 5.

Langkah 2. Ciptakan rumah yang penuh kasih sayang

Mengapa langkah ini penting? Anak-anak butuh kasih sayang dan tanpa itu perkembangannya bisa buntu. Pada tahun 1950an, antropolog M.F. Ashley Montagu menulis, “Yang paling dibutuhkan tubuh manusia untuk perkembangannya adalah nutrisi kasih; obat mujarap untuk tetap sehat adalah merasakan kasih sayang, khususnya selama enam tahun pertama kehidupan“. Para penliti modern setuju dengan kesimpulan Montagu bahwa “perkembangan seorang anak bisa sangat terhambat apabila tidak mendapat santapan kasih sayang yang cukup“.

Tantangannya: Hidup dalam dunia yang mementingkan diri dan tanpa kasih ini membuat ikatan keluarga menjadi tegang. Coba perhatikan ayat di bawah ini :

2 timotius 3: 1 – 5
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak memperdulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berfikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!

Pasangan suami-istri mungkin mendapati bahwa tuntutan keuangan dan emosi dalam membesarkan anak membuat problem perkawinan yang sudah ada semakin menjadi-jadi. Misalnya perbedaan pendapat antara suami istri mengenai cara mendisiplin anak dan memberinya hadiah bisa menambah ketegangan antara orangtua yang memang sudah sulit berkomunikasi.

Solusinya: Rencanakan waktu bersama sebagai keluarga secara teratur. Suami istri juga perlu merencanakan waktu bersama untuk berdua-duaan. [Amos 3: 3,  “Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?”). Gunakan waktu dengan bijaksana setelah anak-anak tidur. Jangan biarkan TV merampas saat-saat berharga ini. Pertahankan kemesraan dalam perkawinan dengan sering menyatakan cinta kasih terhadap satu sama lain. Ketimbang terus “mengecam“, setiap hari carilah cara-cara untuk memuji teman hidup anda. Coba lihat beberapa ayat di bawah ini :

Amsal 25 : 11
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya, adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

Kidung Agung 4: 7 – 10
Engkau cantik sekali, manisku, tak ada cacat cela padamu. Turunlah kepadaku dari gunung Libanon, pengantinku, datanglah padaku dari gunung Libanon, turunlah kepadaku dari puncak Amana, dari puncak Senir  dan Hermon, dari liang-liang singa, dari pegunungan tempat macan tutul.
Engkau mendebarkan hatiku, dinda, pengantinku, engkau mendebarkan hati dengan satu kejapan mata, dengan suntai kalung dari perhiasan lehermu.
Betapa nikmat kasihmu, dinda, pengantinku. Jauh lebih nikmat cintamu daripada anggur, dan lebih harum bau minyakmu daripada segala macam rempah.

Mazmur 103 : 9
Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

Amsal 31 : 28
Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia, pula suaminya memuji dia: Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka semua.

Beritahu anak-anak anda bahwa anda mengasihi mereka. Allah memberikan teladan bagi para ornag tua dengan secara terus terang menyatakan kasih-Nya kepada Putra-Nya, Yesus. Coba lihat :

Matius 3 : 16 – 17
Sesudah dibabtis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun keatas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga, “Inilah anak-Ku yang ku kasihi, kepada-nyalah aku berkenan”.

Matius 17 : 1 – 5 ( perhatikan ayat ke 5 )
Ayat 1: Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Disitu mereka beridiri saja.
Ayat 2: lalu wajah Yesus berubah rupa di depan mereka; wajahNya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar seperti terang.
Ayat 3: Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Ayat 4: Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada ditempat ini. Jika engkau mau, biarlah kudirikan disini tiga kemah, satu untuk engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia”.
Ayat 5: Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Ku kasihi, kepada-Nyalah aku berkenan, dengarkanlah Dia”.
Ayat 6: Mendengar itu tersungkurlah murid-muridNya dan mereka sangat ketakutan.
Ayat 7: lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata; “Berdirilah, jangan takut!”.
Ayat 8: Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorangpun kecuali Yesus seorang diri.

Fleck, seorang ayah yang tinggal di Austria, mengatakan, ” Saya mendapati bahwa anak-anak mirip bunga. Sebagaimana tanaman kecil ini berpaling ke arah matahari untuk mendapati cahaya dan kehangatan, anak-anak berpaling kepada orang tua untuk mendapatkan kasih sayang dan kepastian bahwa mereka adalah anggota keluarga yang sangat dihargai.

Tidak soal anda menikah atau adalah orang tua tunggal, apabila anda membantu keluarga anda mengembangkan kasih sayang kepada satu sama lain dan kepada Allah, kehidupan keluarga anda akan menjadi lebih baik.

Namun, apa yang Firman Allah katakan tentang menjalankan wewenang sebagai orang tua?

 

Langkah 3: Jalankan wewenang anda.

Mengapa langkah ini penting? menurut penelitian, “anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang pengasih tetapi berwibawa – – yang mendukung anak-anak mereka tetapi menetapkan batas-batas yang tegas – – lebih unggul secara akademis, mengembangkan keterampilan sosaial yang lebih baik, merasa puas tentang dirinya, dan secara keseluruhan lebih bahagia daripada anak-anak yang orang tuanya terlalu lunak atau kelewat keras“, kata majalah Parents.

Tantangannya: Sejak bayi hingga remaja, anak-anak akan menantang hak anda untuk menjalankan wewenang atas mereka. “anak-anak cepat melihat kapan orang tua mereka takut menjalankan wewenang mereka dan kemungkinan besar akan mengalah,” tulis John Rosemond, pengarang buku Parent Power!. “Sehubungan dengan pertanyaan ‘Siapa bos disini?’ jika orang tua tidak memegang kendali, anak-anaklah yang akan mengambil alih,” katanya.

Solusinya: Jangan khawatir bahwa hubungan anda dengan anak-anak akan menjadi renggang atau mereka jadi patah semangat jika anda menjalankan wewenang anda. Allah, pemrakarsa kehidupan keluarga, tidak bermaksud bahwa anak-anak mempunyai hak yang sama untuk memutuskan cara mengatur keluarga. Sebaliknya, Ia menetapkan orang tua pada kedudukan yang berwenang dan memerintah anak-anak, “Taatilah orang tuamu.”

Lihat: Efesus 6: 1 – 4
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu didalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Anda dapat menjalankan wewenang tanpa menjadi diktator. Bagaimana? Dengan mengikuti teladan Allah. Meskipun ia mempunyai kuasa memaksa manusia, anak-anakNya, melakukan kehendak-Nya, Ia menggugah kita melalui sifat-sifat baik kita. FirmanNya menyatakan, “Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti” (Yesaya 48 : 18). Allah ingin kita mentaati Dia, bukan karena kita memiliki rasa takut yang tidak sehat, melainkan karena kita mengasihi-Nya. Tuntutan-Nya masuk akal dan ia tahu bahwa kita akan mendapat manfaat jika kita hidup menurut standar-standar moral-Nya.

1 Yohanes 5 : 2 – 3:
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat,

Mazmur 19 : 8 – 11
Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tidak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan Tuhan itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil semuanya, Lebih indah daripada emas, bahkan daripada banyak emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu tetesan dari sarang lebah.

Bagaimana anda bisa memperoleh kepercayaan diri untuk menjalankan wewenang sebagai orang tua dengan cara yang seimbang? Pertama, anda perlu yakin bahwa Allah menuntut hal itu daripada anda. Kedua, anda harus yakin bahwa hidup menurut standar-standar moral Allah adalah hal terbaik bagi anda dan bagi anak-anak anda – – (Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.)

Apa yang khususnya harus anda lakukan untuk menjalankan wewenang anda?

Langkah 4: Tetapkan aturan keluarga dan tegakkan dengan segera.

Mengapa langkah ini penting? “Faktanya adalah, ” kata Roland Simons, seorang sosiolog di University  of Georgia, “anak-anak akan lebih baik keadaannya jika ada aturan yang jelas dan konsekuansi yang tegas. Tanpa keduanya, anak-anak akan menjadi asyik dengan diri sendiri, egois, dan tidak bahagia – – dan membuat semua orang disekitar mereka ikut sengsara.” Firman Allah menyatakan dengan sederhana, ” …tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” – – Amsal 13 : 24.

Tantangannya: Menetapkan batas-batas yang masuk akal untuk perilaku anak-anak anda dan menegakkan batas-batas tersebut butuh waktu, upaya dan kegigihan. Dan, anak-anak tampaknya memiliki dorongan alami untuk menentang batas-batas demikian. Mike dan Sonia, yang membesarkan dua anak, menyimpulkan tantangan itu dengan tepat. “Anak-anak adalah manusia cilik dengan pikiran dan keinginan sendiri serta kecendrungan bawaan untuk berdosa,” Kata mereka. Kedua orang tua ini sangat menyayangi putri-putri mereka, namun mereka mengakui, “adakalanya, anak-anak bisa keras kepala dan egois.”

Solusinya: Tirulah cara Allah berurusan dengan bangsa Israel. Salah satu cara Ia menyatakan kasih-Nya bagi umat-Nya adalah dengan menjabarkan secara jelas hukum-hukum yang Ia ingin mereka ikuti. Ia menguraikan konsekuensinya jika hukum-hukum tersebut tidak dipatuhi. Hukum-hukum tersebut yang di sampaikan melalui nabi Musa kepada bangsa Israel, yakni:

Keluaran 20 : 2 – 17
(2) Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah mesir, dari tempat perbudakan.

(3) Jangan ada padamu allah lain di hadapan-KU

(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada dilangit diatas, atau yang ada dibumi dibawah, atau yang ada didalam air dibawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

(7) Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.

(8.) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi  hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang ditempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

(12) Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu ditanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.

(13) Jangan membunuh.

(14) Jangan berzinah.

(15) Jangan mencuri.

(16) Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.

(17) Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Jadi, buatlah daftar tertulis aturan rumah tangga yang menurut anda harus dipatuhi anak-anak. Beberapa orang tua menyarankan untuk membatasi daftar semacam itu dengan beberapa aturan saja, mungkin kira-kira lima aturan. Daftar singkat aturan rumah yang dipilih dengan baik akan lebih mudah ditegakkan dan lebih mudah diingat. Cantumkan juga konsekuensinya jika aturan dilanggar. Pastikan bahwa hukumannya masuk akal dan anda siap menegakkannya. Secara rutin, tinjau aturan itu agar semua – – termasuk Mama dan Papa – – tahu persis apa yang diharapkan dari mereka.

Jika aturan dilanggar, segera lakukan konsekuensinya; lakukan dengan cara yang tenang, tegas dan konsisten. Ingat: Jika anda marah, tunggu sampai anda tenang terlebih dahulu sebelum memberikan disiplin apapun. (amsal 29:22). Namun, jangan tunda-tunda. Jangan tawar-menawar. Kalau tidak, anak anda akan berfikir bahwa aturan itu tidak perlu dianggap serius. Hal ini mirip dengan apa yang Alkitab katakan, “Oleh karena hukuman terhadap perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, maka hati manusia penuh niat untuk berbuat jahat.” – -Pengkhotbah 8 : 11.

Apa lagi yang dapat anda lakukan untuk menegaskan wewenang anda dengan cara yang bermanfaat bagi anak-anak? 

Langkah 5: Tetapkan dan pertahankan rutinitas

Mengapa langkah ini penting? Rutinitas adalah bagian penting kehidupan ornag dewasa. Pekerjaan, ibadat, dan bahkan rekreasi biasanya mengikuti rutinitas yang ditetapkan. Orang tua merugikan anak-anak jika mereka tidak diajar untuk mengatur waktu mereka dan berpegang pada jadwal. Di pihak lain, ” penelitian memperlihatkan bahwa aturan dan jadwal membuat anak-anak akan merasa aman dan tentram serta belajar mengendalikan diri dan mandiri“, kata Dr. Laurence Steinberg, seorang profesor psikologi.

Tantangannya: hidup ini serba terburu-buru. Banyak orang tua bekerja berjam-jam, sehingga jarang punya waktu untuk anak-anak. Menetapkan dan mempertahankan rutinitas menuntut disiplin diri dan tekad untuk mengatasi sikap si anak yang pada awalnya menolak mengikuti rutinitas itu.

Solusinya:  terapkan prinsip di balik nasihat Alkitab untuk ‘membiarkan segala sesuatu berlangsung dengan sopan dan teratur’. ( 1 Korintus 14 : 40 ). Misalnya, sewaktu anak-anak masih kecil sekali, banyak orang tua dengan bijaksana menetapkan waktu tidur yang tetap dan teratur. namun, waktu tidur hendaknya dibuat menyenangkan. Tatiana, yang tinggal di Yunani dan memiliki dua anak perempuan yang masih kecil, mengatakan, “sewaktu anak-anak berbaring ditempat tidur, saya membelai mereka dan menceritakan apa yang mama lakukan sewaktu mereka disekolah. lalu, saya bertanya apakah mereka mau menceritakan apa saja yang mereka lakukan pada hari itu. Mereka merasa santai. Sering kali, mereka pun membuka isi hati mereka.”

Kostas, suami Tatiana, membacakan cerita kepada anak-anaknya. “mereka mengomentari cerita itu,” katanya, “dan seringkali kami akhirnya membahas perasaan pribadi mereka. Ini tidak akan terjadi jika saya hanya menyuruh mereka menceritakan apa yang mereka risaukan.” Tentu saja, seraya anak-anak bertambah besar, anda mungkin perlu menyesuaikan jam tidur mereka. Namun, jika anda mempertahankan rutinitas itu, anak-anak kemungkinan besar akan terus menggunakan waktu ini untuk berbicara kepada anda.

Selain itu, keluarga-keluarga akan dengan bijaksana menetapkan kebiasaan untuk makan bersama setidaknya  satu kali sehari. Guna menetapkan kebiasaan ini, jadwal makan mungkin perlu sedikit fleksibel. “Saya kadang-kadang pulang kerja agak malam,” kata Charles, ayah dua anak perempuan. “Isteri saya memberi anak-anak makanan kecil supaya tidak terlalu lapar, tetapi ia selalu menyuruh semuanya menunggu sampai kami bisa makan bersama sebagai satu keluarga. Kami membahas kegiatan hari itu, meninjau sebuah ayat Alkitab, berbicara tentang problem-problem, dan tertawa bersama. Saya ingin menekankan bahwa rutinitas ini benar-benar penting untuk kebahagiaan keluarga kami.”

Agar dapat menguasai langkah ini, jangan biarkan kesibukan mengejar harta materi menggeser rutinitas keluarga. Pastikan untuk “memilih perkara-perkara yang lebih penting“.

Apalagi yang dapat dilakukan orang tua untuk memperbaiki komunikasi dengan anak-anak?

Langkah 6: Jangan abaikan perasaan anak anda.

Mengapa langkah ini penting? Anak-anak ingin dan butuh perasaannya dipahami oleh orang-orang yang paling penting dalam kehidupan mereka, yakni orang tua mereka. Apabila orang tua mempunyai kebiasaan membantah apabila anak-anak menyatakan perasaannya, kecil kemungkinan mereka akan membuka diri dan mereka malah mulai ragu bahwa mereka bisa merasa dan berfikir sendiri.

Tantangannya: Anak-anak cenderung menyatakan pikiran dan emosi dengan istilah-istilah yang ekstrim. Memang, beberapa hal yang dikatakan anak-anak bisa meresahkan orang tua. Misalnya, seorang anak yang sedang frustrasi mungkin mengatakan , “Aku sudah bosan hidup*. Secara naluriah orang tua mungkin menyanggah, “Jangan bicara sembarangan!”. Orang tua mungkin khawatir bahwa jika mereka menanggapi perasaan atau pikiran negatif sang anak, berarti mereka menyetujuinya.

[ *Jangan anggap remeh pernyataan apapun dari anak-anak anda tentang keinginan mengakhiri kehidupan mereka.]

Solusinya: Terapkan nasihat Alkitab untuk ” …cepat mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah“. Lihat Ayatnya di bawah ini:

Yakobus 1: 19 – 20
Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Perhatikan bahwa TUHAN Allah tidak mengabaikan perasaan negatif dari banyak hamba-Nya yang setia, tetapi memastikan hal itu dicatat dalam Alkitab. Perhatikan kutipan kejadian hamba Tuhan yang pada suatu waktu mengalami perasaan negatif :

Kejadian 27 : 46
Kemudian Ribka berkata kepada Ishak: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang istri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?.”

Contoh lain adalah Ayub. Sewaktu mengalami cobaan yang ekstrim (berat), ia mengatakan bahwa ia ingin mati saja. Seperti yang kita ketahui, Nabi ayub, seorang yang benar dan saleh, pada suatu hari kehilangan 7 anak laki-laki dan 3 anak perempuan (meninggal), juga ribuan ekor kambing domba dan keledai dan unta, bahkan ia di timpa barah yang busuk dari telapak kaki sampai batu kepalanya. (lihat kitab Ayub)

Namun, ketimbang mengabaikan perasaan Ayub dan menyuruhnya diam, Allah mengangkat martabat Ayub dan secara sabar mendengarkan dia mencurahkan isi hatinya. Baru setelah itu, Allah dengan ramah mengoreksi dia.  Seorang ayah Kristen mengatakan sebagai berikut, “karena Allah membiarkan saya mencurahkan isi hati saya kepada-Nya dalam do’a, rasanya tidak adail kalau saya tidak membiarkan anak-anak mencurahkan perasaannya yang positif maupun negatif kepada saya.”

Kali berikut anda tergoda untuk memberitahu anak anda, “jangan merasa seperti itu” atau “jangan berfikir yang tidak-tidak“, ingatlah perkataan Yesus Kristus yang termasyur : “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka“. (lukas 6:31). Sebagai contoh: bayangkan anda telah diperlakukan dengan kasar ditempat kerja atau mengalami kekecewaan, mungkin karena kesalahan anda sendiri. Anda mengungkapkan kekesalan anda kepada seorang teman dekat dan mengatakan bahwa anda sudah tidak betah lagi bekerja disana. Apa yang anda harapkan darinya? menyuruh anda untuk tidak merasa seperti itu, kemudian langsung menegaskan bahwa yang salah adalah anda sendiri? Atau, apakah anda lebih suka jika ia mengatakan, “pasti sulit, ya. Ini hari yang berat untukmu!?

Anak-anak serta orang dewasa jauh lebih mudah menerima nasihat jika mereka merasa bahwa orang yaang memberikan nasihat benar-benar memahami mereka dan kesulitan yang dihadapi. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat menyakinkan. Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” [amsal 16 : 23 -24].

Bagaimana anda memastikan bahwa nasihat apapun yang diberikan dianggap serius?

 

Langkah 7: Ajarlah melalui teladan.

Mengapa langkah ini penting? Kita belajar dengan melihat tindakan ornag lain. Kata-kata seringkali hanya menyampaikan informasi. Misalnya, orang tua bisa memberitahu anak-anak untuk bersikap respek dan berkata jujur. Akan tetapi, apabila orangtua yang sama ini meneriaki satu sama lain atau meneriaki anak-anak serta berbohong sebagai dalih untuk tidak melakukan kewajiban yang merepotkan, mereka mengajar anak-anak bahwa beginilah seharusnya orang dewasa bertingkah laku. Meniru orang tua adalah “salah satu cara belajar yang paling ampuh bagi anak-anak“, kata pengarang Dr. Sal Severe.

Tantangannya: Orang tua tidak sempurna. ” …semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,” tulis Rasul Paulus. (Roma 3:23). Mengenai mengendalikan tutur kata kita, Sang murid, Yakobus menulis, “tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; …” [Yakobus 3 : 8], selain itu, bukan hal yang tidak lazim bagi anak-anak untuk menguji kesabaran oranag tua sampai habis-habisan. “Saya heran betapa mudahnya anak-anak saya bisa membuat saya hilang kesabaran,” kata Larry, ayah dua anak, yang biasanya tenang dan berpengendalian diri.

Solusinya: Berupayalah menjadi contoh yang baik – – bukan yang sempurna. Dan, sewaktu anda sesekali berperilaku buruk, gunakan itu untuk mengajarkan pelajaran yang positif. “Apabila saya hilang kesabaran terhadap anak-anak atau apabila saya membuat keputusan yang buruk sehingga merugikan mereka, saya akan mengakui kesalahan dan meminta maaf,” kata Chris, ayah dua anak. Hal ini mengajar anak-anak bahwa orang tua juga bisa melakukan kesalahan dan bahwa kita semua perlu berupaya memperbaiki tingkah laku kita. Kostas, yang disebutkan sebelumnya, mengatakan, “Saya mendapati bahwa karena saya meminta maaf sewaktu hilang kesabaran, putri-putri saya belajar meminta maaf sewaktu mereka berbuat salah.

Tuhan Allah berfirman, ” …janganlah bangkitkan amarah didalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka didalam ajaran dan nasihat Tuhan” [Efesus 6 : 4]. Sewaktu seseorang mempunyai wewenang mengatakan sesuatu tetapi melakukan sebaliknya, anak-anak bisa sama kesalnya dengan, atau mungkin lebih kesal daripada, orang dewasa terhadap orang tersebut. Karena itu, tanyai diri anda pertanyaan berikut pada akhir setiap hari:

Jika sepanjang hari saya tidak mengucapkan sepatah kata pun, pelajaran apa yang ditarik anak-anak dari tindakan saya? Apakah ini adalah pelajaran yang sama yang saya coba ajarkan sewaktu berbicara kepada mereka?

Penutup:

Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain, tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri? [Roma 2 : 21]
 

Tag:

Satu Tanggapan to “Tujuh langkah menjadi orang tua yang lebih baik”

  1. infogue Says:

    Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://keluarga.infogue.com

    http://keluarga.infogue.com/tujuh_langkah_menjadi_orang_tua_yang_lebih_baik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: